SSB GAMA JOGJA


SEPAK BOLA BERMORAL DAN BERETIKA
February 8, 2008, 9:22 am
Filed under: Uncategorized
SEPAKBOLA MENANG-MENANG
By Pitoyo Amrih
Friday, 17-November-2006, 20:10:35 236 clicks

 
Luar biasa! Bagaimana dalam satu bulan selama bulan Juni 2006, seakan sebagian besar manusia tersihir untuk memalingkan segala urusannya, sejenak berkonsentrasi pada perhelatan piala dunia sepakbola. Dari masyarakat kelas bawah, dapat dilihat disekitar kita, ketika siaran langsung sepak bola itu ditayangkan, dihampir setiap sudut-sudut jalan bertengger sebuah televisi dengan kerumunan banyak orang berteriak-teriak dalam obsesinya masing-masing. Sampai kelas atas di bar-bar, café-café dan juga kelompok-kelompok pribadi yang menggelar nonton bareng pertandingan sepak bola. Dead-line pekerjaan, target penjualan, sasaran bulanan, setoran, seakan menjadi nomor dua.

 
Click to view another photos…
 
Tapi ada yang lebih luar biasa menurut saya! Yaitu pelajaran yang seharusnya dapat kita petik dari tontonan sepak bola klas dunia tersebut. Kita boleh menganggap bahwa sebuah pertandingan olah raga adalah ?sekedar? pertandingan olah raga, tidak lebih! Tapi sebuah pertandingan olah raga yang menjunjung tinggi fair-play, dan semua orang yang terlibat di dalam pertandingan tersebut menaruh hormat dan menghargai aturan yang ditegakkan, adalah sebuah model akan perilaku menang-menang.

Lho! Salah satu harus kalah kok menang-menang?

Coba mari kita renungi pelajaran apa yang selama ini kita lihat dalam contoh sepakbola klas dunia ini. Suatu saat pertandingan sedang berjalan, setiap pemain pastilah terpacu detak jantungnya, berkeringat, adrenalin pun memuncak. Sebuah kondisi yang mirip dengan situasi dimana bila terjadi salah paham sedikit saja bisa seketika tersulut emosi seseorang. Salah seorang pemain menggiring bola sambil berlari begitu kencangnya ke jantung pertahanan lawan, dan hup! Dia harus jatuh berguling-guling karena kakinya terganjal salah seorang pemain belakang lawan. Tampak di televisi, seketika itu dia bangun, sang pengganjal pun menghampiri, tapi apa yang terjadi? Mereka berjabat tangan, saling tersenyum, terkadang juga saling memegangkan tangannya ke kepala, dan berlalu melanjutkan pertandingan. Betapa indahnya!

Di lain momen, di tengah pertandingan sedang berlangsung tiba-tiba tampak di tengah lapangan seorang pemain dari kesebelasan negara A, tergeletak berguling-guling kesakitan. Sementara saat itu bola sedang dikuasai salah seorang pemain lawan, sebut dari kesebelasan negara B. Melihat salah seorang dari pemain musuhnya tergeletak tak berdaya, kesebelasan B tidak serta merta mengambil kesempatan, tapi mereka justru menendang bola keluar lapangan agar pertandingan jeda sejenak memberi pertolongan pemain kesebelasan A, musuhnya. Lagi-lagi betapa indahnya!

Tapi tunggu! Tidak sampai di situ saja. Ketika kemudian pertandingan dilanjutkan, karena bola keluar lapangan oleh pemain kesebelasan negara negara B, praktis pelempar bola dari luar lapangan adalah pemain dari kesebelasan negara A. Tapi apa yang dilakukan pemain negara A? Dengan sengaja dia melemparkan begitu saja kepada salah satu pemain B. Walaupun si pemain A secara aturan boleh-boleh saja mempertahankan bola di pihaknya, tapi dia tidak lakukan. Yang dia lakukan justru memberikan begitu saja bola, karena memang si pemain A merasa bahwa seharusnya B-lah yang lebih berhak menguasai bola saat itu. Sepanjang saya tahu tidak ada peraturan tertulis yang mengharuskan itu terjadi, tapi mengapa mereka para pemain lakukan itu?

Bisa dibayangkan, bila saja saat pemain A tergeletak, pemain B tetap melanjutkan permainan tanpa peduli, hukum alam yang terjadi. Semua kesebelasan akan mempredikati para pemain kesebelasan negara B sebagai kesebelasan yang selalu mengambil kesempatan yang tidak fair secara etika.

Demikian juga sebaliknya, ketika bola kemudian ada ditangan A, kemudian dia manfaatkan sendiri tidak diberikan kembali kepada B, mungkin secara aturan tidak apa-apa, wasit pun akan membiarkannya, tapi hukum alam yang terjadi. Semua kesebelasan akan membiarkan bila saja ada pemain A yang tergeletak kesakitan!

Ada lagi yang menarik. Suatu ketika pertandingan sejenak terhenti karena salah satu pemain harus digotong keluar lapangan. Para pemain pun memanfaatkan jeda itu untuk sejenak ke tepi lapangan mengambil botol minum yang dibagikan tim nya masing-masing.

Tampak di televisi adalah close-up dua orang pemain. Satu dari sebuah kesebelasan suatu negara, sedang yang satunya adalah pemain kesebelasan musuhnya. Mereka dengan santainya bercakap di tepi lapangan sambil tersenyum dan tertawa sambil berbagi botol minuman yang hanya satu. Sebuah contoh kearifan bahwa di dalam lapangan mereka boleh saja lawan yang harus saling bertanding, tapi sepertinya mereka masing-masing sadar sepenuhnya bahwa mereka adalah manusia yang harus saling menghargai masing-masing dalam rangka mereka masing-masing melakukan yang terbaik bagi mereka dan bagi apa yang mereka perjuangkan.

Saya pikir tidak berlebihan bila saja saya katakan, bahwa potret miniatur yang terjadi pada pertandingan sepakbola kelas dunia ini adalah sebuah model pembelajaran akan sikap menang-menang. Semua syarat akan menang-menang seakan terpenuhi dalam sikap mereka bertanding satu sama lain.

Walaupun dua kesebelasan itu adalah lawan yang saling berhadapan, apa yang mereka pertontonkan adalah sebuah kerjasama. Kerajasama untuk saling menjaga sportifitas pertandingan, kerjasama untuk menyuguhkan sebuah tontonan yang menarik bagi para pemirsa pertandingan. Kerjasama untuk masing-masing saling menghargai lawannya yang juga sama-sama berjuang bagi negaranya. Kerjasama membentuk sinergi adalah syarat menang-menang.

Kedua kesebelasan yang saling berhadapan. Dari sikap mereka selama bertanding, adalah cermin akan sikap salingketergantungan (interdependency). Mereka semua sadar, untuk diakui, untuk menang, untuk mendapat apresiasi, mereka harus memiliki rasa tergantung akan lawannya. Karena tanpa keberadaan lawan main, mereka sadar tidak mungkin diakui kemenangannya, tidak mungkin mendapat sorakan pujian, tidak mungkin beberapa pemain kemudian mendapat kontrak dengan bayaran tinggi. Saling ketergantungan adalah modal dasar pilihan sikap menang-menang.

Apa yang kita tonton di televisi adalah sebuah contoh pembelajaran akan integritas. Para pemain terlihat selalu menjaga kualitas permainannya. Selalu menghormati apa pun keputusan wasit baginya. Bola boleh saja bundar, menang atau kalah dalam pertandingan bisa saja terjadi, tapi lihatlah para pemain yang terlibat. Mereka selalu menjaga konsistensi sikap integritas mereka untuk selalu menjunjung tinggi sportifitas. Integritas adalah salah satu pondasi akan sikap menang-menang

Dalam kondisi detak jantung cepat dan adrenalin terpacu kencang, kemudian terjungkal jatuh, sepersekian detik mungkin sempat emosi meledak. Tapi sepersekian detik kemudian jabat tangan terjadi. Sebuah tanda akan kata maaf. Sebuah tanda akan kepercayaan bahwa apa yang dilakukan lawannya sekedar dalam rangka upaya merebut bola, bukan untuk sengaja mencederainya. Sebuah sikap kematangan. Lagi-lagi pondasi dari sikap menang-menang.

Mentalitas kelimpahan pun selalu mereka pertontonkan. Memberikan bola begitu saja kepada lawan seperti cerita pemain kesebelasan negara A di atas contohnya. Sebuah mentalitas akan menang-menang.

Saat saya menulis artikel ini pun, tampak di layar televisi, setelah pertandingan antara Jepang melawan Kroasia usai, terlihat kamera menangkap sebuah momen dimana seorang pemain Jepang yang sepertinya mengalami kram di kaki, sedang di urut oleh seorang pemain Kroasia. Sorot kamera lain mengabadikan beberapa pemain Jepang dan beberapa pemain Kroasia, berdiri bersama di tepi lapangan menghadap penonton, bertepuk tangan bersama menyambut tepuk tangan riuh rendah penonton.

Model akan menang-menang itu dipertontonkan kepada kita untuk menjadikan pembelajaran bagi kita. Sebagian besar kita pun sangat menyukai tontonan itu. Akankah kita belajar melakukan semua contoh sikap itu pada kehidupan keseharian kita? Saya bisa mengerti bahwa hidup mungkin tidak sesederhana permainan sepak bola. Tapi lihatlah bangsa kita, sepakbola yang mungkin sederhana saja tidak bisa bersikap menang-menang, bagaimana sikap itu akan menjadi kebiasaan pada kehidupan kita? Lebih-lebih di lingkup keluarga dan orang-orang sekitar kita.


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: